TIPS Mengubah Kelemahan Menjadi Kelebihan

TIPS Mengubah Kelemahan Menjadi Kelebihan

TIPS Mengubah Kelemahan Menjadi Kelebihan
TIPS Mengubah Kelemahan Menjadi Kelebihan

Perbedaan-perbedaan dan POTENSI adalah berbeda dalam setiap individu. Inti perbedaan-perbedaan antara satu orang lain dengan orang lainnya, yang mungkin nampak seperti kelemahan di mata orang lain, justru adalah, atau sebenarnya bisa menjadi KELEBIHAN kita!

Berdasarkan teori personality oleh Carl Jung, setiap orang terlahir dengan preferensi berbeda, dan preferensi yang terbentuk dari nature (alami), atau nurture (didikan/ pengaruh lingkungan) ini pada akhirnya menentukan gaya kerja, preferensi personality, bahkan potensi kita. Dan intinya, setiap tipe ini memiliki kekurangan kelebihannya sendiri- sendiri, tapi TIDAK ADA tipe yang ‘unggul’ secara umum dibandingkan tipe lainnya.

Memahami bahwa setiap orang berbeda, dan memahami bagaimana diri kita berbeda, adalah langkah pertama dalam mulai mengubah ‘kelemahan’ kita menjadi kelebihan.

Dikotomi 1: Ekstrovert VS Introvert

Seseorang bisa berbeda dalam caranya mendapatkan energi, dan bagaimana ia memusatkan perhatiannya. Artinya, seseorang yang cenderung ekstrovert prefer mendapatkan energinya dari ‘sumber luar’ dirinya, seperti orang lain, atau tindakan fisik. Sementara seseorang yang cenderung introvert, mengumpulkan energinya dari dalam dirinya, seperti merenung, berpikir, dan refleksi diri.

Dampaknya, seorang ekstrovert akan cenderung supel, suka banyak bicara, suka mencari perhatian, dan ekspresif. Sementara seorang introvert tampak diam, senang aktivitas pribadi, dan senang menyendiri. Dari mata introvert, ‘banyak ngoceh’ adalah salah satu kelemahan seorang ekstrovert, dan dari mata ekstrovert, terlalu diam dan kebanyakan mikir, adalah kelemahan seorang introvert.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang ekstrovert perlu mencari profesi dan posisi yang dia banyak bertemu dengan banyak orang, tempat dia bisa mengekspresikan dirinya, dan bertindak langsung secara fisik. Sementara seorang introvert perlu memberikan dirinya posisi dan situasi kerja dia bisa dengan tenang bekerja tanpa banyak gangguan luar, dan memanfaatkan kemampuan refleksi dirinya dengan optimal, seperti menulis.

Dikotomi 2: Intuitive VS Sensing

Dikotomi ini menentukan bagaimana seseorang menyukai informasi, bentuk informasi, atau data yang disukainya. Seorang intuitive senang gambaran besar, dan suka ‘kemungkinan- kemungkinan’ di masa depan. Saat seorang intuitive ingin mencoba hal baru dan selalu tertarik pada potensi masa depan, seorang sensing memiliki ketertarikan pada detail, pada hal-hal berurutan, dan pada fakta masa kini. “Yang real ajalah!” Sensing suka hal yang telah terbukti dan sudah tertulis.

Dari mata intuitive, kelemahan sensing adalah seseorang yang kebanyakan mikir ‘hal detail enggak perlu’, dan terlalu ngurut, sehingga, menurut mereka, “enggak kreatif”. Dari mata sensing, kelemahan intuitive adalah seseorang yang kebanyakan ‘mimpi’. Mereka melihat tipe intuitive sebagai seseorang yang melihat terlalu jauh tanpa fakta, gegabah, dan tidak teliti.

Tips Memperkuat Kelebihan: Tipe intuitive perlu menyadari kelebihannya sebagai visioner. Ia perlu mencari posisi dan rekan yang bisa membantunya mewujudkan visinya, atau bahkan mengoptimalkan kreatifitasnya Sementara seorang sensing perlu menyadari kekuatannya dalam detail dan data berurutan adalah kemampuan luar biasa dalam mewujudkan dan merealisasikan project, dengan membuat semacam patokan dan langkah- langkah proses.

Dikotomi 3: Feeling VS Thinking

Menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan, seorang feeling akan cenderung mengambil keputusan dengan mendekati keputusannya, dan melihat efeknya terhadap orang-orang yang terlibat. Ia cenderung menjaga perasaan orang lain, dan menghindari konfrontasi. Sementara seorang thinking adalah tipe to the point dan by the book. Dia akan mengambil keputusan yang adil dan ‘seharusnya’ menurut hukum.

Dari mata seorang feeling, tipe thinking sering terlihat terlalu galak, kurang empati, dan sering menyinggung orang lain tanpa disadarinya, walaupun sebenarnya ia hanya bertindak sesuai peraturan.

Sementara dari mata seorang tipe thinking, seorang feeling sering kali terlalu terlihat mudah tersinggung alias baper, ‘kebanyakan enggak enakan’, dan tidak tegas.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang tipe feeling akan sangat berfungsi optimal dalam posisi seperti PR, Human Relation, CSR, dan posisi- posisi yang membutuhkan interaksi dan menjaga hubungan dengan orang lain. Sementara seorang tipe thinking perlu mencari posisi dimana dia bisa membantu membuat peraturan, atau dalam langkah-langkah penegakan hukum dan prosedur.

Dikotomi 4: Judging VS Perceiving

Seorang judging adalah tipe yang rapi dan ingin mengatur serta meng- organize segalanya, semua serba terencana, dengan rencana tiga lapis yang dilakukan sesuai jadwal. Sementara, seorang perceiving cenderung go with the flow, tidak membuat rencana, atau membuat rencana ‘terbuka’.

Dari mata seorang judging, kelemahan tipe perceiving adalah seseorang yang ‘sembrono’ dan tidak teratur, seakan-akan anti kerapian, berantakan, dan seringkali terlambat, dan tidak suka keputusan.

Dari mata seorang perceiving, kelemahan tipe judging adalah terlalu kaku dan tidak dinamis. Atau seringkali dalam bahasa mereka, ‘boring’, dan tidak berwarna.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang tipe judging adalah pembuat rencana yang tajam dan akurat, dan dapat melaksanakan rencana dengan baik. Ia perlu mencari dan melakukan fungsi dan posisi planner, manajerial, atau sistem pengawasan. Sementara seorang tipe perceiving sebagai tipe yang jauh lebih dinamis, perlu mencari kegiatan dan pekerjaan yang tidak banyak mengikat, dan akan mengeluarkan potensinya dengan fungsi yang lebih terbuka dan bersifat pengembangan.

Kadang-kadang, kita tidak perlu menutupi semua kekurangan. Malah mungkin kadang, kita hanya perlu mengubahnya dan MENGOPTIMALKANNYA menjadi suatu kelebihan!

Pelajari kelemahan, karena siapa tahu dia menyembunyikan POTENSI terbesar kita!

Tanyakan pada diri Anda, “Apa tipe saya?” “Apa nilai positif dari ‘kelemahan’ saya yang lain?” dan “Bagaimana saya bisa mengembangkan ‘kelemahan’ ini jadi kelebihan?”

Sumber : https://downloadapk.co.id/