Posted in: Kesehatan

PENGOPTIMALISASIAN ZAKAT MAAL

PENGOPTIMALISASIAN ZAKAT MAAL (HARTA) DALAM PENINGKATAN SAVING GUNA PEMERATAAN EKONOMI DI INDONESIA

PENGOPTIMALISASIAN ZAKAT MAAL

Potensi zakat yang ada di Indonesia sangatlah besar dilihat dari jumlah penduduk Muslim yang ada. Zakat sendiri merupakan suatu hal yang diwajibkan dalam agama Islam yang merupakan rukun Islam. Banyak dari umat Muslin yang memiliki pendapatan lebih dari besarnya nishab justru acuh terhadap kewajibannya mengeluarkan zakat maal (harta). Padahal apabila potensi zakat ini dikembangkan serta dioptimalkan kesenjangan anatar sis miskin dan sis kaya akan berkurang dengan sendirinya. Zakat sendiri memiliki beberapa ketentuan untuk penerimanya sehingga dana yang telah terkumpul tidak akan dapat disalahgunakan dengan mudah.diperlukan sebuah sistem serta regulasi yang tepat untuk menjalankan zakat agar dana yang terkumpul dapat digunakan sebagai tambahan saving bagi negara serta dapat mengatasi kesenjangan sosial. Zakat berasal dari kata zaka, artinya tumbuh dengan subur. Makna lain dari kata zaka sebagaimana digunakan dalam Al-Qur`an adalah suci dari dosa. Dalam kitab-kitab hukum Islam, perkataan zakat itu diartikan dengan suci, tumbuh dan berkembang serta berkah. Jika pengertian tersebut dihubungkan dengan harta, maka menurut ajaran Islam harta yang dizakati itu akan tumbuh dan berkembang, bertambah karena suci dan berkah (membawa kebaikan bagi hidup dan kehidupan yang memiliki harta tersebut). Data yang diambil merupakan data riil di lapangan yang diambil dari sumber BPS (Badan Statistik Nasional). Adanya zakat bukan bererti pemerintah dapat lepas tangan dalam hal kesejahteraan penduduknya. Zakat merupakan elemen ssosial dimana masyarakan yang mampu menyalurkan hartanya guna memperbaiki kesejahteraan masyarakan lainnya. Zakat dapat diambil dalam beberap bidang seperti pertanian, perdagangan, perkebunan, peternakan, penghasilan. Penetapan besarnya zakat yang harus dikeluarkan yakni sebesar 2,5 % dari besarnya harta yang dimiliki. Distribusi zakat dapat berupa bantuan secara langsung maupun tidak seperti pelatihan soft skill maupun pemberian bantuan modal bagi pelaku ekonomi menengah ke bawah. Beasiswa, kesehatan gratis juga merupakan salah satu bentuk pendistrubusian zakat yang dapat dilaksanakan.

Key Words: Kesejahteraan, Kewajiban, Nishab, Umat Muslim, Zakat.

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Zakat sama halnya dengan pajak yang diterapkan namun perbedaannya yakni zakat diwajibkan bagi yang mampu dan tidak bagi sebaliknya. Pajak diwajibkan bagi setiap masyarakat baik kalangan bawah maupun tinggi namun besarannya dilihat dari harta atau penghasilan yang dimiliki. Melalaui pajak pemerintah tidak sekedar mengumpulkan dana, namun membangun barang publik yang dapat memuaskan masyarakat.[1]

Potensi zakat yang ada di Indonesia sangatlah besar dalam upaya meningkatkan devisa negara. Hal tersebut dikarenakan jumlah penduduk Indonesia yang banyak serta sebgaian besar dari mereka adalah umat Islam.

Zakat sendiri merupakan rukun Islam yang dimana rukun tersebut harus dilaksanakan oleh mereka umat Muslim. Namun, pada kenyatannnya potensi yang sebesar itu belum juga dimaksimalkan oleh negara ini.

Terutama zakat maal yang wajib dikeluarkan bagi harta yang dimiliki. Sebagian besar umat Muslim yang memiliki pendapatan di atas nishab tidak mengeluarkan zakat atas dasar mereka menganggap zakat tersebut dapat mengurangi keuntungan yang akan diterima.