Posted in: Otomotif

Pembiayaan Persediaan (inventory financing)

Pembiayaan Persediaan (inventory financing)

Bank konvensional dapat dijumpai adanya kredit modal kerja yang dipergunakan untuk mendanai pengadaan persediaan (inventory financing). Bank syariah mempunyai ekanisme tersendiri untuk memenuhi kebutuhan pendanaan persediaan tersebut,yaitu antara lain dengan menggunakan prinsip jual belli (bai’) dalam dua tahap. Tahap pertama,bank mengadakan (membeli dari supplier secara tunai barang-baarang yang dibutuhkan oleh nasabah. Tahap kedua,bank menjual kepada nasabah pembeli dengan pembayaran tangguh dan dengan mengambil keuntungan yang disepakati bersama anatara bank dan nasabah.

  1. Pembiayaan Modal Kerja Untuk Perdagangan 

  2. Perdagangan Umum

Perdagangan umum adalah perdagangan yang dilakukan dengan target pembelli siapa saja yang datang membeli barang-barang yang telah disediakan di tempat penjual,baik pedagang eceran (retailer) maupun pedagang besar (whole seller ). Pada umunya,perputaran modal kerja (working capital turnover ) perdagangan semacam ini sangat tingg,tetapi perdagangan harus mempertahankan sejumlah persediaan yang cukup karena barang-barang yang dijual itu sebatas jumlah persediaan yang ada atau telah dikusai penjual.

Untuk pembiayaan modal kerja perdagangan jenis ini,skema yang paling tepat adalah skema mudharabah.

  1. Perdagangan Berdasarkan Pesanan

Perdagangan ini biasanya tidak dilakukan atau diiselesaikan di tempat penjual,yaitu seperti perdagangan antar kota,perdagangan antar pulau,atau perdagangaan antar Negara. Pembeli terlebih dulu memesan barang-barang yang dibutuhkan kepada penjual berdasarkan contoh barang atau dafar barang serta harga yang ditawarkan. Biasanya,pembeli hanya akan membayar apabila barang-barang yang dipesan telah diterimanya. Hal ini untuk menghindari kemungkinan risiko akibat ketidak mampuan jumlah dan kualitas barang yang dikirimkan dengan spesifikasi yang dimaksud dalam surat penawaran atau pemesanan.

Berdasarkan pesanan itu,penjual lalu mengumpulkan barang-barang yang diminta dengan carra membeli atau memesan,baik dari prodesen  maupun dari pedagang lainnya. Setelah terkumpul,barulah dikirimkan kepada pembeli sesuai pesanan. Apabila barang telah dikirim, penjual juga menghadapi kemungkinan risiko tidak dibayarnya barang yang dikirimnya itu.

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi kedua belah pihak,bank konvensional telah memberikan jalan keluarnya,yaitu fasilitas letter of credit (L/C). Bank syariah telah dapaat mengadopsi mekanisme (L/C) itu dengan menggunakan skema al-wakalah,al-musyarakah,al-mudharabah, ataupun al-murabahah. Dalam al-wakalah,bank syariah hanya memperoleh pendapatan berupa fee atas jasa yang diberikannya.[23]

 

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/