Posted in: Umum

paman termuda nabi muhammad

Kekhalifahan Bani Umayyah Di Spanyol

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan islam yang paling berjasa memipin satuan-satuan pasukan kesana. Mereka adalah Tharif Ibn Mali, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Tharif menyebrangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa dengan satu pasukan perang, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakam oleh julian. Tak ada perlawanan berarti, ia menang dan kembali ke Afrika dengan membawa harta rampasan. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam kerajaan Visigothic, serta dorongan dari Musa Ibn Nushair yang mengirimkan pasukan sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad pada tahun 711 M.[1]

Berikut urutan penguasa Daulat Umayah di Spanyol, diantaranya :

1. Abdurrahman I (756-788)
2. Hisyam I (788-796)
3. Hakkam I (796-822)
4. Abdurrahman II (822-852)
5. Muhammad I (852-886)
6. Al-Munzir ibn Muhammad (886-888)
7. Abdullah ibn Muhammad (888-912)
8. Abdurrahman III (912-961)
9. Hakkam II/Al-Mustanshir (961-976)
10. Hisyam II/Al-Muayyad (976-1009)
11. Muhammad II Al-Mahdi (1009-1010)
12. Sulaiman Al-musta’in (1010)
13. Muhammad II Al-Mahdi (1010)
14. Hisyam II Al-Muayyad (1010-1016)
15. Sulaiman Al-musta’in (1016)
16. Abdurrahman IV Al-Murtadha (1016-1023)
17. Abdurrahman V Al-Mustazhir (1023)
18. Muhammad III Al-Mustakfi (1023-1027)
19. Hisyam III Al-Muktadi (1027-1031) [2]
Abdurrahman I mulai menata pemerintahannya setelah memproklamirkan berdirinya pemerintahan baru, Dinasti Umayyah. Abdurrahman I tidak menggunakan gelar Khalifah tetapi menggunakan gelar Amir. Gelar khalifah pertama kali digunakan oleh Abdurrahman Al-Nashir (Abdurrahman III) bersamaan dengan meninggalnya khalifah Al-Muqtadir di Baghdad. Abdurrahman III memproklamirkan dirinya sebagai khalifah Umayyah dan Amir Al-Mu’minin. Ia menggunakan gelar Al-Nashir dibelakang namanya, mengikuti dua khalifah pendahulunya.
Ketika itu, Andalusia belum stabil. Perselisihan itu terjadi antara suku Bradar dengan suku Arab. Didalam suku arab sendiri juga terjadi perselisihan yaitu antara suku Qaisy dan suku Yamani perselisihan itu membuat masyarakat dari kehidupan polotik belum stabil. Hal ini juga ditambah dengan gangguan dari golongan Kristen yang terus berlangsung.
Al-Mustanshir menggantikan ayahnya Al-Nashir setelah meninggal. Setelah Al-Mustanshir meninggal, selanjutnya diangkatlah putranya yang bernama Hisyam II yang berusia 10 tahun menjadi khalifah dengan gelar Al-Muayyad. Muhammad ibn Abi Amir Al-Qahthani yang diangkat sebagai Hakim Agung dimasa akhir kekhalifahan Al-Mustanshir mengambil alih seluruh kekuasaan dan menempatkan khalifah dibawah pengaruhnya . ia memakai gelar Al-Malik Al-Manshur Billah atau Hajib Al-Manshur yang memegang jabatan tahun 976-1003 M. Selanjutnya ia menyingkirkan beberapa petinggi dan pemuka Umayyah yang berpengaruh. Ia juga membentuk polisi rahasia dan membubarkan tentara khalifah . kemudian ia digantikan oleh Abd Al-Malik ibn Muhammad dengan gelar Al-Malik Al-Mudhaffar. Dinasti Umayyah mengalami kemerosotan setelah Al-Mudhaffar diganti oleh Abd Al-Rahman ibn Muhammad yang bergelar Al-Malik Al-Nashir lidnillah.[3]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/