Menjadi Pribadi Yang Berakhlak

Menjadi Pribadi Yang Berakhlak

Menjadi Pribadi Yang Berakhlak
Menjadi Pribadi Yang Berakhlak

Jika memberikan manfaat kepada orang sudah menjadi kebiasaan dan gaya hidup kita, maka disitulah berarti kita sudah benar-benar menjadi pribadi yang bermanfaat. Sebab kalau sekedar melakukan saja, bahkan sekedar berniat saja, itu hanya baru disebut melakukan kebaikan.

Ini yang kadang dilupakan orang. Banyak yang hanya membahas sampai melakukan kebaikan dengan cara membantu orang orang lain. Namun hal itu belumlah menjadi kepribadian, baru sebatas mau melakukan. Sebuah tindakan, akan menjadi sebuah akhlak saat kita sudah melakukan dengan biasa tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Anda memberi, belum tentu kepribadian Anda. Namun jika Anda sudah biasa memberi dan menjadi gaya hidup Anda, barulah itu disebut kepribadian (akhlak).

Bagaimana cara kita meningkatkan manfaat diri? Ya, kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas kebaikan. Kuantitas bisa dilihat dari frekuensi dan besarnya apa yang diberikan kepada orang lain. Sementara kualitas manfaat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas diri kita, yaitu dengan meningkatkan keterampilan dan kemampuan, sehingga apa yang kita berikan semakin bermanfaat.

Semakin banyak seseorang memberikan manfaat kepada orang lain -tentunya orang yang tepat- maka semakin tinggi tingkat kemanfaatannya bagi orang lain. Semakin tinggi kemanfaatan seseorang kepada orang lain, maka ia semakin tinggi posisinya sebagai manusia menuju “manusia terbaik”.

Karena memberikan manfaat kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri… (QS. Al-Israa [17]:7)

Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya. (Muttafaq ‘alaih)

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR. Muslim)

Lantas, agar kita benar-benar mendapatkan manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat. Kita harus menghindari dari semua penghapus pahala amal, yaitu ketidak ikhlasan atau riya’. Niatkan, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (pujian). Penyakit riya sungguh tidak terlihat, sangat samar, sehingga kita harus hati-hati.

Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya (QS. Al Zalzalah [99]:7)

Percayalah! Dengan menjadi orang yang paling bermanfaat, berarti juga menjadi orang yang sukses baik di dunia maupun di akhirat. Lihatlah orang-orang yang dipandang sukses, mereka semua memiliki banyak manfaat bagi orang lain. Maka, jadilah pribadi yang bermanfaat, bahkan yang paling bermanfaat bagi bangsa, negara dan agama.

Sumber : https://filehippo.co.id/