Gara-gara Kucing

Table of Contents

Gara-gara Kucing

AIkisah, sepasang suami-istri dikaruniai seorang anak terhadap th. pertama era pernikahannya. Tentu saja, mereka amat gembira bersama dengan anugerah Allah selanjutnya dikarenakan punya anak termasuk salah satu harapan besarnya. Akan tetapi, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Allah Swt. berkehendak menimpakan penyakit aneh kepada sang anak yang masih bayi itu. Berbagai ikhtiar penyembuhan telah ditunaikan kedua orang tuanya. Namun, penyembuhan seakan takberdaya untuk menyembuhkannya, kondisi sang Anak se-makin memburuk.

Tidak cuma kondisi anaknya yang makin memburuk, kondisi ibu-bapaknya pun menjadi jelek akibat rasa sedih dan besarnya kekuatan yang dikeluarkan untuk menyembuhkan anak semata wayangnya itu. “Perasaan jelek itu menyeruak di di dalam hati dikarenakan kami jadi takberdaya menambahkan penyembuhan bagi penderitaan anak kami,” ujarnya.

Ketika kondisi sang Anak telah amat mengkhawatirkan, tersedia seseorang yang menyatakan kepada pasangan muda ini seorang dokter yang memiliki pengalaman dan terkenal. Mereka pun langsung mengunjungi dokter tersebut. Saat tiba di area praktik dokter itu, demam anaknya makin tinggi.

Dokter itu pun berkata, “Apabila panas anak Anda tidak turun malam ini, kemungkinan besar dia bakal meninggal esok hari.”

Keduanya ulang bersama dengan sang Anak bersama dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang tubuh sang Ayah memikirkan anaknya sampai kelopak matanya takmampu terpejam tidur malam hari.

Untuk menenangkan diri, dia pun langsung shalat dan memohon jalur terbaik kepada Allah. Setelah selesai shalat, dia langsung pergi bersama dengan wajah bermuram durja meninggalkan istrinya yang menangis sedih di dekat kepala anaknya.

Ayah muda ini terus berlangsung di jalanan dan tidak paham apa yang kudu diperbuat untuk anaknya. Tiba-tiba, dia teringat terhadap sebuah hadits Rasulullah saw. perihal sedekah yang berbunyi, “Obatilah orang yang sakit di pada kalian bersama dengan sedekah.”

Namun, dia bingung, siapa yang kudu dia temui terhadap sementara malam seperti ini. Dia dapat saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tetapi apa yang bakal dikatakan oleh tuan tempat tinggal kepada dia terkecuali dia laksanakan itu?

Dalam kondisi bimbang seperti itu, tiba-tiba, tersedia seekor kucing kelaparan yang mengeong di kegelapan malam. Dia pun langsung teringat terhadap pertanyaan seorang kawan baik kepada Rasulullah saw, “Apakah berbuat baik terhadap binatang kami tersedia pahalanya?”

Rasulullah menjawab, “Di di dalam tiap-tiap apa yang bernyawa tersedia pahalanya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Tanpa pikir panjang, dia pun langsung ulang ke rumah, menyita sepotong daging, dan memberi makan kucing itu.

Dia menutup pintu belakang rumahnya. Suara pintu itu bercampur bersama dengan suara istrinya yang bertanya, “Mengapa anda telah ulang bersama dengan cepat?” dia pun bergegas menuju ke arah istrinya dan mendapati wajah sang Istri telah berubah. Dari permukaan wajahnya, terlihat raut kegembiraan.

Wanita muda itu berkata, “Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar masih di dalam kondisi duduk. Maka, aku melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dalam tidurku, aku melihat diriku mendekap anakku. Tiba-tiba, tersedia seekor burung hitam yang amat besar berasal dari langit yang terang hendak menyambar anak kami untuk mengambilnya dariku. Aku menjadi amat ketakutan, dan tidak paham apa yang kudu aku perbuat? Tiba-tiba, terlihat seekor kucing yang menyerang secara dahsyat burung itu, dan keduanya terlibat perkelahian sengit. Aku tidak melihat kucing itu lebih kuat daripada burung itu dikarenakan si burung badannya gemuk. Namun, pada akhirnya burung elang itu pun pergi menjauh. Aku terbangun mendengar suaramu saat datang tadi.”

Mendengar cerita istrinya, dia cuma tersenyum. Melihat suaminya, sang Istri menatap ke arahnya bersama dengan terheran-heran.

Keduanya selanjutnya bergegas mendekati anaknya. Dilihatnya demam sang Anak telah mereda dan matanya telah jadi terbuka. Esok harinya, sang Anak telah sudi makan dan sehat seperti sedia kala.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :