Etos Kerja Bagi Masyarakat Muslim

Etos Kerja Bagi Masyarakat Muslim

Etos Kerja Bagi Masyarakat Muslim
Etos Kerja Bagi Masyarakat Muslim

Bekerja merupakan kewajiban setiap muslim, karena dengan bekerja, setiap umat Islam dapat mengaktualisasikan kemuslimannya sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah yang paling mulia di dunia. Jadi, bekerja adalah suatu fitrah sekaligus identitas diri yang berlandaskan pada prinsip – prinsip iman tauhid. Oleh karena itu, jika manusia enggan untuk bekerja, sesungguhnya dia telah menurunkan derajat dirinya sebagai manusia.

Kita harus selalu menanamkan keyakinan bahwa bekerja adalah amanah Allah, sehingga ada beberapa sikap mental yang tegas pada diri setiap pribadi muslim bahwa bekerja harus dilandasi dengan tujuan yang jelas agar pekerjaannya memberikan hasil yang maksimal serta selalu berusaha menumbuhkan kreativitas dan inovasi yang berguna bagi orang lain dan diri sendiri.

Ruang Lingkup Masalah

Etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Sedangkan etos kerja muslim dapat didefinisikan sebagai cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja tidak hanya bertujuan memuliakan diri, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh dan mempunyai nilai ibadah yang luhur.

Orang yang menghayati etos kerja akan mempunyai sikap dan tingkah laku yang berlandaskan pada suatu keyakinan bahwa bekerja merupakan bentuk dari ibadah. Ciri etos kerja muslim, antara lain memiliki jiwa kepemimpinan (leadership), selalu berhitung, menghargai waktu, hidup hemat dan efisien, adanya keinginan untuk mandiri.

Ada beberapa hal yang menghambat etos kerja, yaitu takhayul, alon – alon asal kelakon, sikap gampangan, take it easy, nrimo – fatalistis, salah persepsi bahwa kerja kasar itu hina.

Tujuan Pembuatan Makalah

Ada beberapa tujuan yang ingin penulis capai dalam pembuatan makalah ini, yaitu :

    1. Mendorong umat Islam agar mempunyai motivasi yang tinggi untuk mengubah dunia dengan prestasi Islami.

    2. Setiap muslim dapat mempunyai inovasi dan kreativitas yang tinggi untuk mengolah alam secara maksimal, karena alam merupakan amanah dan rahmat dari Allah SWT.

    3. Penulis berharap dapat membagi pengetahuan yang diperolehnya kepada pembaca, sehingga pembaca mempunyai wawasan yang lebih luas.

    4. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama.

Pembahasan

Pemahaman kita tentang iman seringkali mempunyai makna yang bersifat abstrak, gaib, sehingga kita kehilangan gambaran nyata dari kekuatan iman tersebut. Iman adalah meyakini di dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dalam perbuatan.

Seharusnya, setiap muslim harus meyakini bahwa iman akan terasa bermakna apabila dimanifestasikan dalam bentuk amal saleh, yaitu suatu bukti wujud aktivitas kerja kreatif, yang ditempa oleh semangat dan motivasi tauhid untuk mewujudkan identitas dan cita – citanya yang luhur sebagai umat terbaik. Pada saat yng bersamaan kita pun sadar bahwa Islam bukanlah hanya sekedar seperangkat konsep ideal, tetapi juga suatu amal praktikal yang akan tetap aktual.

Bekerja adalah fitrah dan merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip – prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah SWT.

Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal kreatif, sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia.

Setiap muslim selayaknya tidak asal bekerja, mendapat gaji, atau sekedar menjaga gengsi agar tidak dianggap sebagai penganggur. Karena, kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab merupakan salah satu ciri yang khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim.

Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menganggur, apalagi menjadi manusai yang kehilangan semangat inovatif. Karena sikap hidup yang tak memberikan makna, apalagi menjadi beban dan peminta – minta, pada hakekatnya merupakan tindakan yang tercela.

Bekerja adalah manifestasi kekuatan iman.

Firman Allah dalam Q. S. Az Zumar : 39

Katakanlah : Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu masing – masing. Sesungguhnya Aku pun bekerja, maka kelak kamu akan mengetahui.”

Ayat ini adalah perintah, dan karenanya mempunyai nilai hukum wajib untuk dilaksanakan. Siapa pun mereka yang secara pasif berdiam diri tidak mau berusaha untuk bekerja, maka dia telah menghujat perintah Allah, dan sadar atau tidak, sesungguhnya orang tersebut sedang menggali kubur kenistaan bagi dirinya.

Islam menempatkan budaya kerja bukan hanya sekedar sisipan atau perintah sambil lalu, tetapi menempatkannya sebagai tema sentral dalam pembangunan umat, karena untuk mewujudkan suatu pribadi dan masyarakat yang tangguh hanya mungkin apabila penghayatan terhadap esensi bekerja dengan segala kemuliannya dikajikan sebagai pokok kajian bagi setiap muslik, mubaligh, para tokoh dan sampai menjadi salah satu kebiasaaan da budaya yang khas di alamrumah tangga seoran muslim.

Hanya pribadi – pribadi yang menghargai nilai kerja yang kelak akan mampu menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang tangguh.

Seorang muslim haruslah menjadi manusia yang memiliki semangat untuk menjadi manusia yang diperhitungkan, mampu memberikan pengaruh kepada alam sekitarnya, sehingga dengan cepat dia mampu dikenal, diperhitungkan, karena berhasil mengaktualisasikan prestasi dirinya.

Rasulullah SAW bersabda

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/