Anjak Piutang (factoring)
Posted in: Pendidikan

Anjak Piutang (factoring)

Anjak Piutang (factoring)

Anjak Piutang (factoring)

Fasilitas ini diberikan oleh bank dalam bentuk pengambilalihan piutang nasabah. Untuk keperluan tersebut,nasabah mengeluarkan draf (wesel tagih) yang diaskep oleh pihak yeng berhutang atau promissory notes (promes) yang diteebitkan oleh pihak yang berhutang,kemudian di-endors oleh nasabah. Draf atau promes tersebut lalu dibeli oleh bank dengan diskon sebesar tingkat bunga yang berlaku atau disepakati untuk jangka waktu yang tertera pada draf atau promes tersebut. Bila saat jatuh tempo daraf atau promes tersebut ternyata tidak tertagih,nasabah wajib membayar kepada bank sebesar nilai nominal draf tersebut.

Untuk kasus pembiayaan piutanga seperti tersebut diatas hanya dapat dilakukan dalam bentuk qardh dimana bank tidak boleh meminta imbalan kecuali biaya administrasi. Untuk kasus anjak piutang,bank dapat memberikan fasilitas pengambilalihan piutang,,yaitu yang disebut hiwalah. Akan tetapi,untuk fasilitas ini pun bank tidak dibenarkan dalam meminta imbalan kecuali biaya layanan atau administrasi dan biaya penagihan. . Dengan demikian ,bank syariah meminjam uang (qardh) sebesar piutang yang tertera dalam dokumen piutang (wesel tagih atau promes) yag diserahkan kepada bank-tanpa potongan. Hal ini adalah bila ternyata pada saat jatuh tempo,hasil tagihan itu digunakan untuk melunasi utang kepada nasabah kepada bank. Akan tetapi,bila putang itu tidak diatgih,nasabah harus membayar kembali utangnya itu kepada bank . Selain itu ulama memberikan jalan keluar berupa pembelian surat utang (bai’ ad-dayn), tetapi sebagian ulama melarangnya.

  1. a)Bai’ al-Murabahah

Pembiayaaan dalam usaha produksi terdiri atas biaya pengadaan bahan baku dan penolong. Melalui proses produksi,bahan baku tersebut akan menjadi barng setengah jadi,kemudian menjadi barang jadi yang siap untuk dijual. Bila barang itu dibeli dengan kredit ia berubah menjadi piutang dan melalui proses collection akan berubah menjadi kas kembali.

  1. b)Bai’ al-Istisna’

Melalui fasilitas ini,bank melakukan pemesanan barang dengan harga yang disepakati kedua belah pihak (biasanya sebesar biaya produksi ditambah) keuntungan bagi produsen,tettapi lebih rendah dari harga jual) dan dengan pebayaran dimuka secara bertahap,sesuai dengan tahap-tahap proses produksi.

Kombinasi pembelian dari nasabah produsen dan penjualan kepada pihak pembeli itu menghasilkan skema pembiayaan berupa istisna’ parallel  atau istisna’ wal muraabahah ,dan bila hasil produksi tersebut disewakan,skemanay menjadi istisna’ wal ijarah . Bank memperoleh keuntungan dari selisih harga beli (istisna’) dengan harga jual murabahah atau dari hasil sewa (ijarah)

Sumber :

https://callcenters.id/