Menebar virus cinta matematika dengan sistem infak

Menebar virus cinta matematika dengan sistem infak

Menebar virus cinta matematika dengan sistem infak
Menebar virus cinta matematika dengan sistem infak

Jamak di antara kita menganggap matematika sebagai momok

yang menakutkan dan harus dihindari. Banyak rumus rumit dan berhitung angka-angka yang tidak riil membuat murid-murid sekolah sering kebingungan dan memilih untuk tidak menekuni bidang ini.

Namun, keluh kesah di atas tidak berlaku bagi Ir Raden Ridwan Hasan Saputra Msi, Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Pria kelahiran Bogor 16 April 1975 ini mengaku sangat cinta dengan matematika. Hingga pada suatu waktu setelah menyelesaikan Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia memilih mendedikasikan hidupnya untuk mengajar matematika.

Mengajari matematika harus dengan hati serta niat yang tulus dan ikhlas agar anak-anak menyukai matematika. Pria yang biasa disapa dengan nama Ridwan ini, selama ini banyak guru -khususnya di sekolah dasar- terpaksa mengajar matematika. Padahal guru tersebut tidak suka matematika. Ini terjadi karena tuntutan kurikulum yang mengharuskan guru mengajar semua mata pelajaran. Akibatnya, banyak anak yang tidak menyukai matematika.

Ada banyak faktor kenapa anak-anka tidak suka matematika

. Salah satunya karena faktor guru. Selama saya mengajar matematika, tidak pernah menemui kendala yang berarti. Karena saya mencintai matematika,” ujar Ridwan saat berbincang dengan Sindonews melalui surat elektronik, Kamis (8/5/2013).

Sebagai bukti kecintaannya dengan matematika, pada 16 April 2001, Ridwan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyebarluaskan virus cinta matematika ke anak-anak sekolah. Klinik Pendidikan MIPA (KPM) namanya.

Pada saat didirikan, Ridawan menuturkan, metode yang digunakan

lembaga pendidikannya seperti halnya tempat les lain. Tetapi, mulai Februari 2003, sistem pembayaran yang diterapkan KPM menggunakan metode seikhlasnya. Siswa membayar biaya les dengan memasukkan uang sesuai kemampuan ke dalam kotak amal yang disediakan oleh KPM.

Bukannya bangkrut, sistem pembayaran seikhlasnya yang diterapkan Ridwan di lembaga pendidikannya justru bertahan hingga sekarang.

“Seharusnya lembaga ini sudah bangkrut dalam waktu enam bulan ketika sistem ini diterapkan. Ternyata Alhamdulillah, lembaga ini masih tetap bertahan. Bahkan terus berkembang sampai sekarang,” ujar Ridwan.

Hingga kini, tahun 2014, KPM sudah memiliki cabang di enam kota. Ridwan menyebutkan, selain di Bogor, KPM juga ada di Surabaya, Solo, Depok, Bekasi, dan Semarang. Jumlah muridnya 2.500 orang, dari tingkat SD dan SMP. Dari jumlah siswa tersebut, 1.100 anak masuk kategori kelas khusus. Jika dulu Ridwan mengajar sendiri, saat ini ia punya 25 karyawan dan 100-an staf pengajar.

 

Baca Juga :