Mengenal Kebiasaan Buruk Yang Dapat Merusak Otak!!

Mengenal Kebiasaan Buruk Yang Dapat Merusak Otak!!

Mengenal Kebiasaan Buruk Yang Dapat Merusak Otak!!
Mengenal Kebiasaan Buruk Yang Dapat Merusak Otak!!

Otak manusia terdiri lebih dari 100 miliar syaraf yang masing-masing terkait dengan 10 ribu syaraf lain. Bayangkan, dengan kerumitan otak seperti itu, maka Anda wajib menyayangi otak Anda cukup dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering disepelekan.

Otak adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem syaraf pusat. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh.

Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.

Sungguh suatu tugas yang sangat rumit dan banyak. Maka, hindarilah kebiasaan buruk di bawah jika Anda masih ingin otak Anda bekerja dengan baik.

1. Tidak mau sarapan

Banyak orang menyepelekan sarapan, padahal tidak mengkonsumsi makanan di pagi hari menyebabkan turunnya kadar gula dalam darah. Hal ini berakibat pada kurangnya masukan nutrisi pada otak yang akhirnya berakhir pada kemunduran otak.

2. Kebanyakan makan

Terlalu banyak makan mengeraskan pembuluh otak yang biasanya menuntun kita pada menurunnya kekuatan mental.

3. Merokok

Merokok ternyata berakibat sangat mengerikan pada otak kita. Bayangkan, otak kita bisa menyusut dan akhirnya kehilangan fungsi-fungsinya. Tak ayal diwaktu tua kita rawan Alzheimer.

4. Terlalu banyak mengkonsumsi gula

Terlalu banyak asupan gula akan menghalangi penyerapan protein dan gizi sehingga tubuh kekurangan nutrisi dan perkembangan otak terganggu.

5. Polusi udara

Otak adalah bagian tubuh yang paling banyak menyerap udara. Terlalu lama berada di lingkungan dengan udara berpolusi membuat kerja otak tidak efisien.

6. Kurang tidur
Tidur memberikan kesempatan otak untuk beristirahat. Sering melalaikan tidur membuat sel-sel otak justru mati kelelahan.

7. Menutup kepala ketika sedang tidur
Tidur dengan kepala yang ditutupi merupakan kebiasaan buruk yang sangat berbahaya karena karbondioksida yang diproduksi selama tidur terkonsentrasi sehingga otak tercemar. Jangan heran kalau lama kelamaan otak menjadi rusak.

8. Berpikir terlalu keras ketika sedang sakit
Bekerja keras atau belajar ketika kondisi tubuh sedang tidak fit juga memperparah ketidakefektifan otak.

9. Kurangnya stimulasi otak
Berpikir adalah cara terbaik untuk melatih kerja otak. Kurang berpikir justru membuat otak menyusut dan akhirnya tidak berfungsi maksimal.

10. Jarang bicara
Percakapan intelektual biasanya membawa efek bagus pada kerja otak

 

Baca Artikel Lainnya:

Pemerkosa & Paedofilia Boleh Saja Dilakukan

Pemerkosa & Paedofilia Boleh Saja Dilakukan

Pemerkosa & Paedofilia Boleh Saja Dilakukan
Pemerkosa & Paedofilia Boleh Saja Dilakukan

 

Polandia memberikan hukuman pengebirian

terhadap pelaku paedofilia dan pemerkosaan, dengan cara menelan pil untuk mengendalikan hasrat seksual mereka. Hukuman semacam ini dinilai bisa saja dilakukan, namun belum cocok diterapkan di Indonesia.

“Bisa saja itu diterapkan, tapi di Indonesia masih jauh untuk ditetapkan aturan ke arah sana,” kata pakar hukum pidana Universitas Gajah Mada (UGM), Eddy OS Hiariej kepada detikcom, Rabu (9/6/2010).

 

Menurut Eddy, sanksi terhadap pelaku perbuatan pidana di Indonesia

itu masih ditetapkan berdasarkan undang-undang. Namun dia menambahkan, tidak setiap tindakan pidana itu harus berujung di dalam penjara.

 

“Tidak mesti perbuatan pidana itu dipenjarakan

tindakan itu (pengebirian) bisa jadi salah satu sanksi,” ujar dia. Dia berharap dengan menelan pil itu para pelaku hendaknya menjadi jera atas tindakannya. Tapi, tetap saja pemberian pil itu harus melalui pengawasan agar si pelaku tidak menganggap sepele sanksi itu.

“Kalau diberi pil (pil pengendali hasrat seksual) itu, saya rasa mereka tidak akan bisa melakukan (pemerkosaan atau paedofilia) itu lagi,” jelas dosen fakultas Hukum UGM ini.

Sebelumnya, pemerintah Polandia mulai menerapkan hukuman pengebirian bagi pelaku pemerkosaan dan paedofilia. Hukum itu dinilai paling keras di Benua Eropa.

Baca Juga : 

GPS Mobil Rawan Terbakar

GPS Mobil Rawan Terbakar

GPS Mobil Rawan Terbakar
GPS Mobil Rawan Terbakar

Hati-hati Anda pengguna GPS pada mobil.

Soalnya perangkat ini bisa mengakibatkan kebakaran di mobil.Setidaknya di AS, 2 pabrikan mobil yakni Suzuki dan Nissan harus menarik mobil-mobil yang menggunakan perangkat GPS dengan merek Garmin.

 

Suzuki harus menarik lebih dari 20.000 mobilnya antara lain mobil SX4 keluaran 2008-2010

Grand Vitara 2010 dan Equator yang dilengkapi dengan unit navigasi Garmin Nuvi 750, 760 dan 765. Sedangkan Nissan menarik 7 modelnya yakni Altima, Frontier, Pathfinder, Rogue, Sentra, Versa dan Xterra. Seperti dilansir Leftlanenews, Senin (14/9/2010), GPS Garmin itu berpotensi overheating dan bisa menyebabkan kebakaran di kabin.

 

Hingga berita ini diturunkan belum ada laporan hangusnya mobil akibat api dari sistem navigasi GPS.

Namun, untuk mengantisipasinya, Nissan AS menginstruksikan pada pemilik mobil Nissan yang dimaksud untuk menghubungi diler Nissan terdekat untuk mendapatkan penggantinya.

Sementara Garmin dalam penjelasan di situs resminya menuturkan potensi kebakaran bisa muncul karena penggunaan baterai yang dipasok oleh produsen baterai pihak ketiga pada beberapa model Garmin nüvi dengan PCB (Printed Circiut Board) yang spesifik.

Berikut GPS Garmin yang direcall:

  • nüvi 200W, 250W, & 260W

Baca Juga : 

Mengenal Apa Itu Amiodaron

Mengenal Apa Itu Amiodaron

Mengenal Apa Itu Amiodaron
Mengenal Apa Itu Amiodaron

Amiodaron adalah antiaritmia kelas 3 yang memiliki sifat farmakokinetik dan dinamik yang unik. Obat ini banyak digunakan dan efektif sebagai terapi akut maupun jangka panjang, pada penatalaksanaan aritmia, baik aritmia ventrikuler, takikardi supraventrikuler maupun fibrilasi atrial. 

Amiodaron merupakan senyawa benzofuran, yang strukturnya sangat mirip dengan hormon tiroid. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila pada pemakaian obat ini, didapatkan pula efek terhadap organ tiroid. 

Efek yang ditimbulkan terhadap tiroid berupa kelainan disfungsi klinis, baik tirotoksikosis maupun hipotiroidisme, yang terjadi akibat kandungan iodium yang tinggi dalam amiodaron maupun efek toksik obat secara langsung terhadap kelenjar tiroid. 

Disfungsi ini terjadi pada kondisi fungsi kelenjar yang normal maupun pada mereka yang memiliki penyakit tiroid sebelumnya. 

Farmakokinetik dan Farmakodinamik

Amiodaron memiliki bioavailabilitas yang sangat bervariasi, yaitu berkisar antara 22 hingga 95%. Absorpsinya meningkat bila diminum bersamaan dengan makanan. Bahkan bila diminum bersamaan dengan buah jeruk besar (grapefruit) ataupun bentuk jus-nya dapat menghambat metabolisme amiodaron dan menyebabkan peningkatan konsentrasi amiodarone dalam darah.

Karena bersifat larut dalam lemak maka amiodaron ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi di jaringan lemak dan otot, hati, paru dan kulit. Amiodaron juga dapat menembus sawar plasenta dan ditemukan pada air susu ibu. Waktu paruh amiodaron sangat panjang, rata-rata 58 hari.


Secara elektrofisiologis, amiodaron menyebabkan pemanjangan interval QT, melambatkan laju jantung dan konduksi AV node dengan menghambat kanal kalsium dan reseptor beta, lalu dengan menginhibisi kanal kalium dan natrium menyebabkan pemanjangan masa refrakter dan perlambatan konduksi intrakardiak.


Pemberian amiodaron secara intravena harus memperhatikan zat pelarut yang terkandung dalam preparat obat tersebut. Obat ini memakai pelarut yang mengandung polysorbate 80 dan benzyl alkohol. Kedua zat kimia itu diperlukan, karena amiodaron tidak larut dalam air, tetapi keduanya juga diketahui dapat menyebabkan efek inotropik negatif dan hipotensi. Oleh karena itu pemberian secara intravena harus dilakukan secara perlahan agar tidak terjadi hipotensi mendadak. Saat ini sudah tersedia bentuk amodaron intravena yang larut dalam air dan tidak mengandung zat-zat vasoaktif, sehingga pemberian secara cepat tidak menjadi masalah.

Indikasi

  • Aritmia ventrikuler 
    Mula kerja amiodaron intravena yang sudah terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit sejak pemberian merupakan salah satu alasan efektifitas terapi akut pada aritmia ventrikel.
     
  • Takikardia kompleks QRS lebar dengan hemodinamik yang stabil. 
  • Pasien dengan ICD (Implantable Cardioverter Defibrillation)
    Pemberian amiodaron pada pasien yang telah dipasang ICD terbukti mengurangi kejadian syok terapi dan Atrial fibrilasi (AF). Pemberian amiodaron plus penghambat beta secara signifikan menurunkan risiko DC syok.
     
  • Atrial Fibrilasi  (AF)
    Meskipun beberapa ahli menyatakan bahwa Amiodaron dapat digunakan pada AF, tetapi pemakaian obat ini untuk AF, belum mendapatkan rekomendasi dari FDA. 
    Akhir-akhir ini, pemberian amiodaron intravena untuk terapi AF dengan respons ventrikel cepat,  semakin sering dipakai. 
  • Pada pasien-pasien dengan gagal jantung kongestif, amiodaron juga menunjukkan hasil yang lebih baik untuk konversi dan mempertahankan irama sinus 
  • Preoperatif Aritmia
    Amiodaron intravena 1 gram perhari yang diberikan selama 2 hari sebelum operasi, efektif menurunkan insidens AF pasca operasi jantung terbuka.

 

Efek Samping

Efek samping yang paling serius adalah keracunan paru, eksaserbasi aritmia dan injuri pada hepar. Umumnya efek samping akan kembali normal dengan penghentian terapi amiodaron. Kebanyakan efek samping terjadi pada pemakaian lebih dari 6 bulan.


Insidens neuropati optik, yaitu efek samping paling serius di mata, berkisar antara 0.36 hingga 2%. Neuropati optik akibat amiodaron terjadi secara perlahan menimbulkan kehilangan penglihatan bilateral dan edema diskus.


Insidens Amiodarone-induced pulmonary toxicity (AIPT), berupa pneumonitis akut dan fibrosis kronis yang bisa mengancam jiwa. Insidens dapat meningkat 10 – 30 lipat pada pemberian 500mg dibanding 200mg per hari. Mekanisme AIPT adalah kerusakan jaringan paru akibat akumulasi fosfolipid. AIPT dapat sembuh bila terdiagnosis dini. AIPT ditandai dengan batuk nonproduktif yang progresif, dispnoe, penurunan berat badan dan mungkin demam.


Amiodarone-induced hypothyroidism lebih sering terjadi di daerah yang cukup asupan yodium-nya dibanding daerah dengan defisiensi yodium. Lebih sering terjadi pada wanita dan orang tua. Manifestasi klinisnya berupa fatig, letargi, bradikardi, dispnu, intoleransi dingin, kulit kering, berat badan naik, konstipasi dan nafsu makan berkurang. 

Berbeda dengan hipotiroid, Amiodarone-induced thyrotoxicosis (AIT) lebih sering terjadi di daerah dengan defisiensi yodium dan terutama terjadi pada pria (3:1). AIT ditandai dengan peningkatan signifikan T4 dan/atau T3 serum. Jika AIT terjadi pada pasien dengan disfungsi tiroid sebelumnya maka disebut AIT tipe I, sedangkan tipe II terjadi pada pasien tanpa disfungsi tiroid sebelumnya. Manifestasi klinis AIT berupa palpitasi, SVT, BB turun, berkeringat, kelemahan otot, tremor, insomnia dan mood swings. 

Pada AIT tipe I, kadar interleukin-6 serum normal atau sedikit meningkat, uptake iodine radioaktif 24 jam oleh kelenjar tiroid normal atau meningkat dan terdapat peningkaan vaskularisasi. Pada tipe II, kadar interleukin-6 serum meningkat signifikan, dengan uptake iodine radioaktif yang rendah dan vaskularisasi normal.

Interaksi Obat

Pemberian obat-obat yang dapat menimbulkan hipokalemia dan/atau hipomagnesemia harus dihindari karena dapat meingkatkan risiko aritmia ventrikel.


Amiodaron dapat meningkatkan efek warfarin dengan cara inhibisi CYP450 2C9 yang berfungsi untuk metabolisme S-warfarin di hepar. Keadaan yang serupa akan terjadi juga pada antikoagulan oral yang lain sehingga dapat menimbulkan hipoprotrombinemia dan perdarahan. Peningkatan efek antikoagulan terjadi setelah pemberian amiodaron satu minggu atau lebih dan bertahan beberapa bulan setelah amiodaron dihentikan.


Penggunaan bersama amiodarone dengan simvastatin dan lovastatin dosis tinggi dapat meningkatkan risiko myopati. Mekanismenya adalah hambatan CYP450 3A4 di interstinal dan hepar yang menyebabkan bioavalibititi dan menurunkan klirens simvastatin. Resiko miopati ini meningkat pada dosis statin yang lebih tinggi.


Pemberian amiodaron bersama digoksin akan meningkatkan kadar digoksin serum hingga 100% sehingga menyebabkan intoksikasi. Peningkatan ini lebih tinggi lagi pada anak-anak. Amiodaron diduga meningkatkan waktu transit intestinal, menurunkan klirens renal dan distribusi volume, mengubah ikatan protein digoksin, dan induksi hipotiroid ; semuanya itu berkontribusi pada peninghkatan kadar digoksin serum.

 

(Sumber: https://www.diigo.com/item/note/4x55f/236y?k=a8f7b64659590e3252e72c05848f1d50)