Tips Mudah Mendidik Anak Remaja Yang Beranjak Dewasa Bagi Orangtua

Tips Mudah Mendidik Anak Remaja Yang Beranjak Dewasa Bagi Orangtua – Mendidik anak remaja yang beranjak dewasa memang tidak mudah, namun bukan mustahil. Dengan teknik yang tepat, anak bakal menjadi individu yang hebat di masa mendatang. Namun, guna menaklukkan anak remaja tidaklah mudah. Mengingat masa remaja ialah masa peralihan. Di mana mayoritas anak akan mengerjakan pemberontakan dan kenakalan remaja.

Bagi kita yang mengharapkan anak tumbuh menjadi anak yang luar biasa, yaitu dengan karakter powerful dan terbit sebagai pelajar sukses, pastikan untuk mengekor sejumlah tips gampang mendidik anak remaja di bawah ini.

Bebaskan Anak guna Bersosialisasi dengan Lingkungan

Ketika anak sudah menginjak usia remaja, anak bakal senang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Mereka lebih asyik dengan teman-teman sekolah atau bermain di luar lokasi tinggal ketimbang menguras waktu bareng Anda.

Saat urusan ini terjadi, kita tak perlu cemas dan risau. Biarkan anak bersosialisasi dengan sesamanya di lingkungan yang baru. Selama teknik bersosialisasi yang digunakan dominan positif, laksana mengikuti pekerjaan ekstrakurikuler atau pekerjaan di lingkungan.

Dengan bersosialisasi anak bakal belajar urusan baru, mengajar sikap kepemimpinan, dan teknik mengambil keputusan yang tepat saat mereka terpapar masalah. Anak pun bakal lebih mandiri.

Jadikan diri kita sebagai Teman

Terkadang saat anak berada di umur remaja, anak bakal menjauh dari Anda. Penyebab utamanya ialah adanya perbedaan dalam memandang suatu hal. Hal ini paling wajar terjadi, menilik rentang umur Anda dan buah hati yang terpaut jauh.

Mulailah masuki dunia anak remaja, pahami apa yang sedang menjadi tren dan pelajari tentang psikologis mereka. Hal ini akan mempermudah Anda guna mendidik anak remaja. Nah, supaya Anda tidak berjarak dengan anak, teknik terbaik ialah menjadikan diri kita sebagai teman, bukan sebagai orang tua. Teman ialah sosok yang akan ditelusuri oleh anak guna sekadar berkeluh kesah.

Dengan menjadi teman untuk buah hati, kita dapat mengerjakan pemantauan, menyerahkan masukan tanpa terkesan menggurui, dan mengontrol tumbuh kembangnya. Manfaat lainnya, kita dan anak bakal menjadi lebih dekat sebab sering menguras waktu bersama.

Berikan Kepercayaan dan Tanggung Jawab

Peran orang tua memang penting, tetapi tidak boleh selalu menunjukkan anak guna mengikutinya keinginan Anda. Biarkan anak untuk mengupayakan sesuatu atau menyimpulkan sesuatu guna dirinya sendiri. Beri mereka keyakinan dan tanggung jawab supaya mereka dapat lebih berdikari dan tidak tidak jarang kali bergantung pada Anda.

Hal ini paling bermanfaat untuk anak saat sudah dewasa. Di samping memberikan keyakinan dan tanggung jawab ini, beri pun rambu-rambu yang tidak boleh dilalui si anak. Misalnya mereka boleh pergi bareng teman guna bermain hingga malam, namun Anda pun harus menyerahkan tanggung jawab pada anak untuk kembali tepat waktu. Ini adalahsalah satu teknik mendidik anak remaja yang efektif.

Hargai Minat dan Pemikiran Anak

Sebagai orang tua tidak jarang kali kita merasa tahu dan tidak jarang kali benar tentang apa yang baik untuk anak. Namun, tanpa disadari terkadang urusan itu tidaklah sama serupa dengan apa yang kita pikirkan. Tak jarang, pemikiran Anda bertolak belakang dengan pemikiran anak. Pemaksaan terhadap anak melulu akan menciptakan ia merasa tertekan dan bahkan mengerjakan hal buruk, laksana kenakalan remaja.

Dalam situasi seperti ini, usahakan biarkan anak guna berani menyampaikan pendapat mereka. Hargai pemikiran dan pendapatnya. Dengan teknik ini, anak lebih memahami dan memuliakan Anda. Hubungan kita dan anak juga semakin harmonis. Jangan menilai masa depannya, namun arahkan mereka dengan menghargai masing-masing minat dan bakat si anak.

Ajarkan Pendidikan Agama

Agama menjadi urusan penting untuk keluarga. Terapkan edukasi agama sedini mungkin supaya anak tidak terjerumus pada pergaulan yang salah. Bagaimanapun edukasi agama ialah fondasi yang kuat untuk karakter seseorang.

Sumber: www.sekolahan.co.id

Perjalanan Kurikulum Pendidikan Nasional

Perjalanan Kurikulum Pendidikan Nasional

Perjalanan Kurikulum Pendidikan Nasional
Perjalanan Kurikulum Pendidikan Nasional

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

 

Rentjana Pelajaran 1947, yang menjadi kurikulum pendidikan masa itu masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Ia bisa dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan, maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Pada tahun 1952, kurikulum pendidikan mengalami penyempurnaan, dengan nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952.

 

Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di Indonesia, dengan nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran yang menjadi cirinya adalah pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

 

Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum pendidikan 1975 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut : 1. Berorientasi pada tujuan 2. Menganut pendekatan integratif 3. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. 4. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). 5. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon dan latihan.

 

Kurikulum ini kemudian dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan diubah kembali menjadi kurikulum pendidikan 1984 dengan ciri: 1. Berorientasi kepada tujuan instruksional. 2. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). 3. Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. 4. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. 5. Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. 6. Menggunakan pendekatan keterampilan proses.

 

Sumber : https://www.ayoksinau.com/

Materi Kepemimpinan dalam organisasi

Materi Kepemimpinan dalam organisasi

Materi Kepemimpinan
Materi Kepemimpinan

 

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain :
  • Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)
  • Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial
  • Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.

  • Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.
  • Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.

Muncul dua pertanyaan yang menjadi perdebatan mengenai pemimpin,

  • Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau ditempat?
  • Apakah efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan dari satu organisasi ke organisasi yang lain oleh seorang pemimpin yang sama?

Untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut kita lihat beberapa pendapat berikut :

  • Pihak yang berpendapat bahwa “pemimpin itu dilahirkan” melihat bahwa seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena dia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinannya.
  • Kubu yang menyatakan bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa” berpendapat bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.

Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :

  • seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan
  • bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya
  • ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.

Untuk menjawab pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi:

  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi dengan sendirinya dapat dilaihkan kepada kepemimpinan oleh orang yang sama di organisasi lain
  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi tidak merupakan jaminan keberhasilannya memimpin organisasi lain.

  • Tipe-tipe Kepemimpinan :
  • Tipe Otokratik
    • Semua ilmuan yang berusaha memahami segi

kepemimpinan

    otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.
    • Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain

dalam

    bentuk :
  • kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
  • pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
  • Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

    • Gaya

kepemimpinan

    yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
  • menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
  • dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
  • bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
  • menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.
  • Tipe Paternalistik
    Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
    Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.
  • Tipe Kharismatik
    • Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria

kepemimpinan

    yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.

Sumber : https://ngelag.com/

Menantang Diri Sendiri Menjadi Modal Utama Generasi Muda untuk Mencapai Sukses

Menantang Diri Sendiri Menjadi Modal Utama Generasi Muda untuk Mencapai Sukses

British School Jakarta kembali menyelenggarakan Inspire Me (IME) Conference yang diadakan pada Jumat (14/9/2018) di Theater Raffles, British School Jakarta.

Dengan mengusung tema “Aspiring to Inspire”, IME Conference 2018 diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan generasi muda guna menumbuhkan rasa nasionalisme dan jiwa kreatif supaya mampu berlomba di masa depan.

Presiden IME Conference 2018 Elaine Kusuma mengungkapkan, generasi muda Indonesia ketika ini tidak sedikit yang telah berkontribusi guna negara dengan  teknik berinovasi dan berkreativitas.

“Edukasi masa sekarang sudah lebih baik, terlebih teknologi pun sudah berkembang dengan pesat. Saya pikir, pemuda Indonesia sudah lumayan termotivasi guna menjadi yang terbaik guna dirinya sendiri sehingga dapat berkarya dengan baik di bidangnya masing-masing,” ujar Elaine di sela-sela acara, Jumat.

Di  www.pelajaran.id samping itu, Elaine pun menjelaskan bagaimana pemuda-pemudi Indonesia mesti dapat bertahan di tengah revolusi bidang industri atau dikenal pun dengan 4th Industrial Revolution.

“Untuk dapat survive dari gencarnya pertumbuhan zaman seperti kini ini, anda harus dapat menantang diri sendiri guna terus menjadi yang terbaik dan mesti selalu dapat menyelesaikan masalah dengan penyelesaian terbaik. Saya pikir tersebut modal urgen untuk dapat terus berkembang,” ujar wanita yang masih menempuh studi ruang belajar 12 ini.

Sependapat dengan Elaine, sejumlah bintang tamu laksana Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez pun menekankan pentingnya untuk generasi muda guna selalu mengupayakan dan pantang menyerah.

“Sebagai generasi muda, anda harus terus berinovasi dan berkarya di bidang yang anda sukai. Jangan tidak jarang kali money oriented, tapi anda harus tulus dulu dalam berkarya,” ujar Andovi.

Di samping itu, mereka pun sempat berbagi tips untuk dapat berkarya di dunia digital, salah satunya platform YouTube.

“Kami telah berada di platform ini selama tujuh tahun yang lalu. Awalnya tidak terdapat maksud guna menjadi terkenal. Kami hendak mengeluarkan keresahan pada diri kami guna (kami) jadikan suatu karya yang dapat dinikmati tidak sedikit orang,” tambah Jovial.

CIRI – CIRI MEDIA PENDIDIKAN

CIRI – CIRI MEDIA PENDIDIKAN

CIRI MEDIA PENDIDIKAN
CIRI MEDIA PENDIDIKAN
BAB 2
CIRI – CIRI MEDIA PENDIDIKAN
Gerlach dan Ely dalam bukunya Azhar Arsyad (2002: 12) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa – apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
2.1  Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini meggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali (dalam satu decade atau satu abad) dapat diabadikan dan di susun kembali untuk keperluan pembelajaran.

.2  Ciri Manipulatif ( Manipulatif Property )

Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar. Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan perhatian sungguh-sungguh karena apabila terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau pemotongan bagian-bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran yang tentu saja akan membingungkan dan bahkan menyesatkan sehingga dapat mengubah sikap mereka kearah yang tidak diinginkan.
2.3  Ciri Distributif (Distributif Property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadin itu.

  • Prosedur Penggunaan Media Pengajaran

Telah diuraikan sebelumnya bahwa media pengajaran seharusnya dipilih secara sistematik, agar dapat digunakan secara efektif dan efisien. Menurut Budinuryanta (1998: 17) mengemukakan bahwa ada tiga langkah pokok dalam prosedur penggunaan media pengajaran yang perlu diikuti yaitu:
1)        Persiapan
Dilakukan sebelum menggunakan media. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penggunaan media dapat dipersiapkan dengan baik, yaitu:
(1) pelajari buku petunjuk atau bahan penyerta yang telah disediakan, kemudian diikuti di dalamnya,
(2) siapkan peralatan yang diperlukan untuk menggunakan media yang dimaksud,
(3) tetapkan apakah media tersebut digunakan secara individual atau kelompok, dan
(4) atur tatanannya, agar peserta dapat melihat, dan mendengar pesan-pesan pengajarannya dengan baik.
2)      Pelaksanaan (Penyajian)
3)      Tindak Lanjut
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta terhadap pokok-pokok materi atau pesan pengajaran yang hendak disampaikan melalui media tersebut.

4.4 Penggunaan Media Gambar Seri Dalam PBM

Baugh (dalam Sulaiman, 1998: 30) mengemukakan tentang perbandingan peranan tiap alat indera kita. Semua pengalaman belajar yang dimiliki seseorang dapat dipersentasikan yaitu: 90% diperoleh melalui indera lihat, 5% melalui indera dengar, dan 5% melalui indera lain. Keefektifan penggunaan alat bantu gambar dalam proses belajar-mengajar, dapat dilihat dari hasil penelitian Spaulding (dalam Soeparno, dkk, 1998: 25) menguraikan tentang bagaimana siswa belajar melalui gambar, sebagai berikut:
1)      Gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat siswa secara efektif,
2)      Gambar harus dikaitkan dengan kehidupan nyata, agar minat siswa menjadi efektif, dan gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi teks yang menyertainya.

LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN

LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN

LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN
LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN

Hakikat Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana utama untuk mensukseskan pembangunan nasional, karena dengan pendidikan diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia berkualitas yang dibutuhkan dalam pembangunan. Titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan juga merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya meningkatkan taraf hidup suatu bangsa agar tidak sampai menjadi bangsa yang terbelakang dan tertinggal dengan bangsa lain.

Pendidikan saat ini telah direduksikan sebagai pembentukan intelektual semata, sehingga menyebabkan terjadinya kedangkalan budaya dan hilangnya identitas lokal dan nasional (Tilaar, 2004). Perubahan yang global dengan liberalisasi pendidikan sehingga menuntut lembaga pendidikan untuk mampu menghasilkan kualitas peserta didik yang dapat bersaing secara kompetitif agar dapat diterima pasar. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar ini pada akhirnya akan mendorong lembaga pendidikan kita menjadi lebih bercirikan knowledge based economy institution. Pendidikan yang hanya berorientasi untuk mencetak generasi yang bisa diterima pasar secara ekonomis hanya akan mampu mencetak peserta didik yang berpikir dan bertindak global sehingga mereka tidak memiliki kecerdasan emosional yang akhirnya bermuara pada terjadinya krisis moral dari peserta didik.


Dewey (2001:6) mengemukakan:

Education, in its broadest sense, is the means of this social continuity of life. Every one of the constituent elements of a social group, in a modern city as in a savage tribe, is born immature, helpless, with out language, beliefs, ideas, or social standards. Each individual, each unit who is the carrier of the life experience of his group, in time passes away. Yet the life of the group goes on.

Pengertian pendidikan secara luas berarti kelanjutan kehidupan sosial. Masing-masing dari unsur memilih kelompok sosial, kota modern seperti di suku yang kejam kehidupannya, lahir belum matang, tidak berdaya, dengan keluar bahasa, kepercayaan, ide, atau standar sosial. Tiap individu dan setiap satuan yang membawa pengalaman hidup kelompok masing-masing dan pada waktu tertentu melampaui batas pengalaman sehingga individu terus dapat hidup dengan kelompoknya.

Berdasarkan uraian tersebut pendidikan berfungsi membekali pengalaman dan keterampilan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuannya untuk mempertahankan hidupnya. Keadaan masyarakat yang majemuk akibat perubahan jaman menuntut peserta didik dapat aktif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Oliva (1992:6) yang mengemukakan bahwa curriculum can be conceived in a narrow way (as subjects taught) or in a broad way as all the experiences of learners, both in school and out, directed by the school. Disimpulkan bahwa kurikulum dalam artian sempit merupakan sebagai pokok mengajar dan arti luas sebagai semua pengalaman belajar, baik dalam dan keluar sekolah, di bawah pengawasan sekolah sehingga pelajaran berupaya menciptakan pengalaman belajar bagi siswa perlu mendapat prioritas yang utama dalam kegiatan pembelajaran.


Landasan sosial budaya pendidikan mencakup kekuatan sosial masyarakat yang selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Kekuatan tersebut dapat berupa kekuatan nyata dan potensial yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan dan sosial budaya seiring dengan dinamika masyarakat. Sehingga kondisi sosial budaya diasumsikan mempengaruhi terhadap program pendidikan yang tercermin dalam kurikulum. Hunt (1975) mengemukakan:

Study hits base social and culture from education aims to supply teacher with erudition that deepen about society and where they alive and to help student teacher to detect that explanation hits society and culture of vital importance mean to realize about education problem.

Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa kajian mengenai dasar sosial dan budaya dari pendidikan bertujuan untuk membekali guru dengan pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dan kebudayaan di mana mereka hidup dan untuk membantu calon guru untuk mengetahui bahwa pengertian mengenai masyarakat dan kebudayaan sangat penting artinya guna memahami tentang masalah pendidikan.

Krisis multidimensi yang belum mampu teratasi saat ini merupakan bentuk dari shock culture atau keterkejutan budaya yang dialami karena selama ini tidak disiapkan untuk menghadapi perubahan jaman yang merupakan sebuah keniscayaan. Pendidikan selama ini hanya berorientasi pada usaha untuk mewariskan budaya lokal dan nasional atau hanya melihat fungsi pendidikan sebagai lembaga pentransmisi kebudayaan, bukan sebagai lembaga yang berusaha mempersiapkan peserta didik untuk mengkonstruksi kebudayaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan jaman.


Sumber : www.gurupendidikan.co.id

Pendidikan: Bukan Bara Biasa

Pendidikan: Bukan Bara Biasa

Peristiwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan hasil dari persatuan sebuah bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Akan tetapi, momen proklamasi tersebut adalah tidak benar satu buah dari apa yang ditanam puluhan th. sebelumnya. Sebuah momen yang sanggup diakui sebagai titik balik perjuangan bangsa Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda.

Pendidikan

Delapan dekade lebih telah berlalu sejak momen Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Selama kurun sementara itu pula para pemuda di Indonesia selalu meninggalkan jejaknya dari era ke masa, menjadi dari rezim Orde Lama, Orde Baru, krisis moneter 1998, era reformasi, hingga sementara ini. Sumpah yang telah diucapkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 masih berlaku untuk sementara ini dan di era yang akan datang. Sumpah tersebut merupakan ikrar, suatu janji yang dengan penuh kemauan wajib kita lakukan.

Ilmu Pengetahuan dan Pemuda

Suatu waktu, Anies Baswedan, yang kini menjabat sebagai Mendikdasmen, pernah mengutarakan bahwa kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya. Sumber daya alam sesungguhnya memberikan potensi yang amat tinggi untuk kemajuan suatu bangsa. Namun, kalau kekayaan sumber daya alam itu tidak diiringi oleh ‘kayanya’ sumber daya manusianya, bukan tidak barangkali suatu bangsa akan jadi kuli di tanahnya sendiri. Lagipula, sumber daya alam berbanding terbalik dengan sumber daya manusia. Sumber daya alam lama-kelamaan akan habis, sedangkan sumber daya manusia lama-kelamaan jadi akan makin lama kaya.

Nah, tidak benar satu faktor pendukung terbentuknya kekayaan sumber daya manusia adalah pendidikan. Pendidikan amat mungkin manusia untuk berperilaku lebih baik karena telah memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang dilakukannya. Pendidikan sendiri terhitung kata benda yang memiliki arti “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau group orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatihan; proses, cara tingkah laku mendidik”. Atau, layaknya yang mendiang Pramoedya Ananta Toer ungkapkan, bahwa pendidikan semestinya adalah proses memanusiakan manusia.

Proses pendidikan, yaitu dengan cara mendidik, memiliki arti memelihara dan berikan latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) tentang akhlak dan kecerdasan pikiran. Proses ini tidak sanggup dijalankan dalam sementara yang singkat karena pendidikan bukan hanya melatih manusia dalam berpikir dan memecahkan masalah, tetapi terhitung melatih kepekaan manusia untuk peduli dengan makhluk lainnya yang telah diciptakan oleh Tuhan. Dalam bukunya yang berjudul Madilog, Tan Malaka menulis, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperukuh kemauan, dan juga memperhalus perasaan.”

Ilmu pengetahuan sesungguhnya penting, tetapi dalam perihal ini pembawaan pemuda yang memiliki pengetahuan pengetahun itu jauh lebih penting. Kaum muda yang telah diberikan peluang untuk studi pengetahuan pengetahuan, baik itu di sekolah tinggi negeri ini atau bahkan hingga merantau ke tanah seberang, mereka wajib sanggup melebur dengan masyarakat yang tiap-tiap harinya bergelut dengan cangkul dan debu yang hanya memiliki cita-cita sederhana. Jika perihal itu tidak kita lakukan, untuk apa kita sepanjang ini, berlelah-lelah diri studi untuk masuk ke sekolah tinggi dengan akreditasi yang bagus?

Ilmu Pengetahuan dan Nasionalisme

Di era globalisasi ini, hubungan dengan bangsa-bangsa lain tidak akan terhindarkan. Apalagi pada akhir 2015 nanti, perjanjian Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi berlaku. Pengetahuan dan kemampuan berinteraksi dengan bangsa lain jadi perihal yang perlu untuk dimiliki. Hal tersebut termasuk kemampuan berbahasa, terlebih bahasa Inggris, yang sebisa barangkali kaum muda wajib memilikinya.

Ada anggapan bahwa dengan studi bahasa Inggris akan kurangi rasa nasionalisme kita. Namun, perihal itu bukanlah anggapan yang pas karena bahasa Inggris bukanlah bahasa asing. Dalam sebuah lokakarya yang pernah penulis ikuti, I Made Andi Arsana, yang menjabat sebagai Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri di UGM pernah berkata, “Bahasa Inggris bukanlah bahasa asing, melainkan merupakan bahasa internasional karena kita hidup di sebuah daerah bernama Global Village (Kampung Global).”

Lagipula, bahasa Inggris tidak serta-merta jadi bahasa internasional. Ada sebuah perjalanan panjang yang terangkum dalam peristiwa manusia di bumi ini yang mengantarkan bahasa Inggris jadi bahasa internasional. Poin paling penting dalam berbahasa adalah berkesinambungan ketika bicara dalam satu bahasa, tidak banyak mencampuradukkan kata-kata dalam bahasa yang berbeda. Sebagai contoh, kalau kita bicara ataupun menulis dalam bahasa Indonesia, upayakanlah sebaik-baiknya untuk 100% manfaatkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan sementara berhadapan dengan sesama penutur bahasa Indonesia.

Kembali pada kasus nasionalisme, kuatnya sikap nasionalis kebanyakan lebih banyak terlihat karena pengetahuan akan sejarah, keyakinan-keyakinan pribadi, dan pengalaman hidup khusus yang berlangsung sepanjang bertahun-tahun. Penguasaan bahasa yang disinggung di atas adalah sebagai alat bantu untuk menunjukkan sikap nasionalis tersebut.

Tantangan Pemuda Saat Ini

Ada beberapa tantangan yang wajib diatasi oleh pemuda sementara ini, di antaranya adalah penguasa yang korup, entrepreneur yang oportunis, dan kaum intelektual yang apatis. Ketiga perihal tersebut sanggup jadi penyebab jatuhnya suatu negara. Maka, pemuda Indonesia wajib bersatu-padu untuk menggerakkan proses pendidikan sebaik-baiknya, sehingga kemunculan ketiga perihal tersebut sanggup dicegah dan diberantas keberadaannya.

Pemuda tidak sanggup hanya jadi bara biasa yang berkelap-kelip nyaris mati dalam tumpukan sekam, tetapi pemuda wajib jadi bara dalam sekam yang berjuang untuk menularkan bara impuls perjuangan. Sekalipun dalam prosesnya wajib mati, setidaknya sisa abu sekamnya akan menyuburkan tanah persawahan, yang akan bermanfaat bagi generasi yang sesudah itu di era depan. Jika tersedia perbedaan pendapat, biarlah layaknya itu, jangan hingga perbedaan itu menjadikan perpecahan.

sumber : https://www.ruangguru.co.id/

Ketika Bercerita Menjadi Strategi Asyik Untuk Belajar

Ketika Bercerita Menjadi Strategi Asyik Untuk Belajar

Setiap guru diwajibkan mempunyai trik didalam menyampaikan materi ajarnya. Berbagai cara penyampaian digunakan supaya siswa sadar apa yang sedang diajarkan. Itulah trik pengajaran, atau biasa juga disebut dengan metode pengajaran.

Ketika Bercerita Menjadi Strategi Asyik Untuk Belajar

Seringkali, tiap tiap materi ajar mempunyai strateginya masing-masing. Contohnya, terhadap pelajaran matematika siswa lebih sering diminta untuk mengerjakan latihan. Metode hafalan untuk rumus matematika jarang sekali diterapkan oleh para guru. Sementara itu, pelajaran bhs lebih banyak termasuk kegiatan membaca, bercerita, permainan kata, dan menghafal makna baru. Meskipun metode latihan atau mengerjakan soal juga dipakai didalam pelajaran bahasa, tapi bobotnya lebih kecil dibandingkan pelajaran matematika.

Satu metode dengan metode lainnya saling menunjang dengan porsi masing-masing. Apakah trik bercerita tersedia didalam pelajaran matematika? Pastinya tersedia gara-gara kami tentu pernah mendapati soal cerita dan kebanyakan seorang pelajar yang kurang senang pelajaran bhs mempunyai kesusahan untuk memecahkan soal cerita dibandingkan soal langsung. Atau sebaliknya, seorang yang terlampau senang dengan cerita dapat menjadi lebih gampang memecahkan soal tersebut.

Disebabkan keberagaman sifat dan kecerdasan siswa, guru yang pandai berdongeng terkait dengan materi ajarnya bisa saja akan lebih disukai. Syaratnya, cerita itu tidak nampak dari materi supaya mengabaikan inti dari pelajarannya. Lantas, benarkah bercerita itu asyik atau justru membosankan?

Untuk pelajaran bhs pastinya perlu tersedia cerita, terutama untuk pelajaran bhs asing. Metode bercerita akan terlampau menunjang siswa untuk mengembangkan kekuatan bahasanya. Siswa tanpa disadarinya udah mempraktikkan bhs yang dia ketahui. Dibandingkan cuma dengan menghafalkan tiap tiap kosa kata, tentu akan lebih efektif jika kosa kata selanjutnya digunakan oleh siswa contoh didalam cerita.

Kita dapat menyimak bahwa baik didalam pelajaran bhs Inggris maupun bhs Indonesia selalu tersedia cerita. Sayangnya, seringkali cerita selanjutnya cuma sekadar dibaca sesudah itu dilanjutkan dengan isi pertanyaan-pertanyaan yang ada. Sering pula siswa cuma mengamati struktur kalimat dan mengesampingkan pesan didalam cerita tersebut. Bukankah akan terlampau baik sekiranya siswa ulangi untuk menceritakan cerita selanjutnya dengan bahasanya sendiri? Strategi menceritakan kembali sebuah cerita ini udah diterapkan oleh lebih dari satu pesantren modern didalam pelajaran bhs Arab.

Dinamakan pelajaran “muthola’ah”, yang berarti menelaah, pelajaran ini cuma berisikan cerita-cerita berbahasa Arab yang termuat di dalamnya banyak hikmah. Pelajaran ini juga pelajaran pokok yang perlu dikuasai oleh para siswa di pesantren. Bagi orang awam, mereka bisa saja berpikir bagaimana dapat sadar cerita bhs Arab yang serupa sekali tidak tersedia artinya? Apakah guru atau ustadz menerjemahkan cerita tersebut? Jawabannya serupa sekali tidak.

Strategi yang kebanyakan dipakai oleh sang guru adalah memberikan contoh atau membawa gambar yang terkait dengan judul ceritanya supaya siswa yang menebak judul itu sendiri. Apabila siswa selanjutnya menjawab dengan bhs Indonesia, guru akan membimbingnya untuk gunakan bhs Arab. Seminimal bisa saja atau tidak serupa sekali sang guru gunakan bhs Indonesia.

Setelah perlindungan judul, kebanyakan guru akan memberikan mufrodat atau arti kosa kata yang belum diketahui oleh murid. Namun, kosa kata selanjutnya bukan disimpulkan dengan bhs Indonesia melainkan masih dengan kata bhs Arab yang punya kandungan arti sama. Barulah guru bercerita atau menyatakan cerita yang tersedia didalam buku tersebut. Ketika seluruh udah dijelaskan oleh sang guru, siswa ditugasi untuk menceritakannya kembali di depan teman-temannya. Selain melatih kecerdasan linguistiknya, juga melatih keyakinan diri siswa. Dan didalam pelajaran muthola’ah ini siswa memperoleh hikmah yang dapat mengembangkan kecerdasan afektifnya.

Tentu saja pelajaran mutholaah ini tidak tersedia serupa sekali didalam ujian nasional maupun ujian masuk universitas. Lantas, kenapa siswa di pondok pesantren perlu menguasai dan juga sadar isi cerita didalam pelajaran tersebut? Alasannya, kami ketahui tujuan berpendidikan bukan cuma untuk masuk ke kampus favorit atau sekedar lulus UN. Pendidikan adalah untuk membangun akal, fisik, dan jiwa siswa supaya dia menjadi khusus yang sadar akan konsep dirinya.

Dengan trik studi bercerita, siswa jadi asyik dan tidak jadi digurui oleh nasihat-nasihat yang sebenarnya inginkan disusupkan oleh guru. Siswa sendirilah yang berupaya untuk mengambil hikmah atau tujuan dari cerita tersebut. Sementara guru sekedar fasilitator, membimbing, dan mengarahkan siswa. Akan terlampau baik, sekiranya sebelum saat pelajaran dimulai, guru menyatakan manfaatnya supaya murid sadar tujuan dia studi sesuatu.

Guru dapat menceritakan melalui contoh atau fakta yang ditemui di lapangan supaya studi lebih asyik dan menyenangkan. Bila dimungkinkan guru pun meminta muridnya untuk menceritakan kesusahan atau ketertarikan dari tema yang diajarkan. Cara mengajar muthola’ah cuma tidak benar satu contoh. Pelajaran muthola’ah kebanyakan menjadi pelajaran favorit siswa di pesantren. Mudah dan menyenangkan. Semoga seluruh pelajaran dapat jadi asyiknya.

Kemendikbud Kunjungi Swafoto Favorit Hingga Kerajaan Sriwijaya di Museum Balaputra Dewa

Kemendikbud Kunjungi Swafoto Favorit Hingga Kerajaan Sriwijaya di Museum Balaputra Dewa

 

Kemendikbud — Tidak hanya ke mal atau taman hiburan, kini berkunjung ke museum menjadi sesuatu yang menyenangkan. Apalagi, jika kita mampu menemukan hal-hal baru atau menarik pada pada museum. Museum Balaputra Dewa pada Kota Palembang, misalnya. Selain berisi mengenai konten dan koleksi sejarah Kerajaan Sriwijaya, pada museum ini pula ada lokasi swafoto atau selfie yg terkenal dan sebagai favorit para pengunjungnya.

Kemendikbud Kunjungi Swafoto Favorit Hingga Kerajaan Sriwijaya di Museum Balaputra Dewa
Kemendikbud Kunjungi Swafoto Favorit Hingga Kerajaan Sriwijaya di Museum Balaputra Dewa

Adalah Rumah Limas, yg sebagai primadona di Museum Balaputra Dewa, atau dikenal pula menjadi Museum Negeri Sumatra Selatan. Rumah Limas yg masih ada pada halaman belakang museum ini adalah Rumah Limas yg gambarnya tercantum pada uang lbr Rp10.000 yg dicetak Bank Indonesia pada tahun emisi 2004 & masih berlaku sampai kini . Banyak pengunjung Museum Balaputra Dewa yang menyempatkan diri buat berswafoto dengan latar Rumah Limas yg adalah rumah tradisional Sumatra Selatan ini.

Reza, seseorang pengunjung Museum Balaputra Dewa, mengaku sudah tahu tentang Rumah Limas. Ia pun merogoh gambar & berswafoto dengan membawa uang lembar Rp10.000 sebagai pembanding di pada fotonya. “Buat senang -senang aja,” ucapnya. Menurut Reza, berkunjung ke museum juga mampu sebagai salah satu bentuk rekreasi keluarga.

Sementara Dimas Aditya, siswa SMPN 19 Palembang, mengaku sering berkunjung ke museum nir hanya buat melihat Rumah Limas, melainkan jua buat mengerjakan tugas berdasarkan sekolah. “Misalnya tugas menurut pengajar buat kerja gerombolan membuat prakarya atau latihan seni,” tuturnya yang berkunjung ke Museum Balaputra Dewa sesudah upacara bendera 17 Agustus 2018.

Rumah Limas memang jadi hal yang menarik pada Museum Balaputra Dewa. Tapi materi dan koleksi pada Museum Negeri Sumatra Selatan ini pula kaya akan nilai sejarah dan budaya, khususnya Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan besar di Nusantara. Kita bisa melihat & mempelajari sejarah peradaban Sumatra Selatan, mulai menurut prasejarah, masa Kerajaan Sriwijaya, masa Kolonialisme Belanda dan Jepang, sampai teknologi tradisional budayanya.

Museum Balaputra Dewa memiliki 3 gedung pameran menggunakan tema yang bhineka. Gedung Pameran 1 diisi menggunakan koleksi & pengetahuan mengenai zaman prasejarah. Koleksinya antara lain Arca Megalit dari zaman Megalitikum & Batu Gajah.

Gedung Pameran 2 berisi sejarah Kerajaan Sriwijaya hingga masa kemerdekaan. Palembang adalah sentra pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Pada pertengahan abad ke-7 Masehi, Palembang dikenal menjadi Ibu Kota Sriwijaya sekaligus Kota Pelabuhan. Sebagian besar penghasilan Sriwijaya berasal berdasarkan perdagangan & cukai. Selain itu, tinggalan Sriwijaya yang herbi sistem keagamaan tersebar pada berbagai wilayah Sriwijaya. Tinggalan arca Hindu dan Buddha pada Sumatra Selatan mencapai 116 butir.

Di Gedung Pameran 3, pengunjung mampu melihat kerajinan tradisional Sumatra Selatan. Sumatra Selatan juga dikenal kaya akan kerajinan tradisional, di antaranya goresan, anyaman, logam, & tenun. Benda hasil kerajinan ada yg berfungsi sebagai indera pelengkap upacara. Motif-motif yg dibentuk dalam benda hasil kerajinan juga memiliki arti. Misalnya, motif “Nago Besaung” pada kain songket mempunyai simbol kekuasaan, kemakmuran, & keterikatan.

Seperti museum dalam umumnya, Museum Balaputra Dewa tutup pada hari Senin dan hari libur nasional. Museum ini beroperasi pada hari Minggu hingga Sabtu, & di hari Sabtu & Minggu hanya buka sampai pukul 13.30 WIB. Setelah direvitalisasi pada tahun 2011, tata pameran di museum ini mengalami perubahan dan menjadi lebih menarik. Selain itu, komunitas-komunitas di Palembang juga bisa menyelenggarakan kegiatan positif di museum ini secara gratis. sumber : www.kuliahbahasainggris.com

Tips Mudah Mendidik Anak Lewat Tontonan Sehari-Hari

Tips atau pun cara mendidik anak melalui televisi ini mungkin saja perlu bagi perkembangan sih anak, sebab sekarang ini siapa saja dapat menonton televisi dengan banyak jenis film buat anak-anak. Apabila Anda tak mengawasi sih anak, dikhawatirkan anak nantinya bisa menonton film dewasa sehingga yang demikian ini tentunya dapat mempengaruhi pikiran sih anak itu sendiri.

Tips Mudah Mendidik Anak Lewat Tontonan Sehari
Tips Mudah Mendidik Anak Lewat Tontonan Sehari

Dan, berikut ini adalah beberapa contoh tentang tips mudah mendidik anak, akan tetapi meskipun pendidikannya dari televisi ada baiknya Anda juga mengatur jenis film yang nantinya akan ditonton oleh sih anak.

Tips mudah mendidik anak lewat tontonan sehari-hari

Pilihlah film yang sesuai usianya

Tips pertama yang bisa Anda coba terapkan untuk buah hati tercinta dalam mendidik anak lewat tontonan sehari-hari adalah dengan menyesuaikan film berdasarkan usia anak Anda. Apabila anak Anda memang masih berusia di bawah  5 tahun, maka berikan dia film kartun anak-anak saja, sehingga tak merusak pola pikirnya yang masih polos. Sekarang ini banyak anak yang menonton sinetron atau pun film dewasa sehingga pola pikirnya pun juga cepat dewasa sebelum saatnya.

Jangan lupa mengajarkan pendidikan

Tips lain mendidik anak lewat tontonan sehari-hari yang bisa Anda lakukan adalah jangan lupa mengajarkan kepada sih kecil tentang pendidikan. Pada saat anak Anda menonton televisi, ajarkan juga dia mengenai pendidikan seperti halnya sekolah. Apabila ada film mengenai anak sekolah, maka Anda sebagai orangtua yang baik pun juga harus memotivasinya untuk segera sekolah. Apabila anak And bertanya apa sih tujuannya, maka Anda menjawab sangat penting, sebab dengan bersekolah maka dia akan lebih pintar.

Mengatur jam menonton televisi

Tips yang berikutnya untuk mendidik anak lewat tonton sehari-hari yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengatur jam sih kecil menonton televisi, apabila anak Anda terus dibiarkan untuk menonton televisi hingga berjam-jam lamanya maka juga tak terlalu baik. Orangtua juga harus bisa mengatur jam menonton televisi, tidur, dan juga bermain anak dengan baik, sehingga pola pikirnya lebih terbentuk dengan sangat baik.

Mengajarkan anak mengenai agama

Untuk setiap individu tentunya akan memiliki agama, selain anak belajar pendidikan, Anda pun juga dapat, bahkan harus mengajarkan mengenai agama. Misalnya saja agama Islam, jadi Anda pun juga harus bisa mengajarkan kepada sih kecil menegnai doa makan, doa tidur, doa shlat, dan yang lain sebagainya.

Dalam mendidik anak tentunya tak bisa dilakukan dengan mudah, sebab akan dibutuhkan ketelatenan dan juga kesabaran yang ekstra. Demikianlah tadi sekilas informasi yang dapat kami bagikan tentang tips mudah mendidik anak lewat tontonan sehari-hari. Semoga bermanfaat. referensi  https://www.sekolahbahasainggris.com/